SUAR, Melawi- Warung itu menjadi tempat persinggahan masyarakat yang berada di hulu sungai belimbing menuju ibu kota kabupaten Melawi. Dikenal dengan cita rasa masakan jawa, rumah makan yang terletak di desa Tiong keranjik ibu kota kecamatan Belimbing Hulu itu menjadi tempat singgah tim Sangga Utama Alam Raya (SUAR) ketika menuju desa dampingan. Dari tempat itu membutuhkan waktu sekitar 60 menit menuju desa Piawas apabila menggunakan kendaraan bermotor.
Desa yang memiliki tujuh dusun tersebut hanya bisa diakses sepeda motor, dikarenakan ada 2 jembatan gantung yang terlihat memprihatinkan tak kunjung meningkat kelasnya menjadi jembatan beton besar yang dapat dilalui mobil. Tak hanya itu jalan raya desa tersebut hanya selebar satu meter, tentu hal ini menjadi salah satu penyebab roda empat tak dapat mengakses daerah tersebut.
Jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Merenta dengan pusat Desa Piawas. ©SUAR/Ateng
Kedatangan SUAR pada tanggal 8 sampai 10 September ke desa tersebut untuk melakukan study Community, Climate and Biodiversity (CCB), yang mana kegiatan ini dalam rangka persiapan program Rimba Colective. Tak sendiri Lembaga yang focus terhadap isu lingkungan tersebut menggandeng Green Jastice Indonesia (GJI) sebagai konsultan untuk menilai kondisi CCB di desa Piawas.
Untuk melakukan penilaian tersebut dibutuhkan enam aktivitas yaitu, Pendekatan Awal Tanpa paksaan (PADIATAPA), Pemetaan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) secara pertisipatif, Menilai kondisi keanekaragaman hayati secara pertisipatif, menganalisa masalah desa secara partisipatif, menilai kondisi kekayaan masyarakat secara partisipitaif dan survey kondisi rumah tangga.
Hal menarik yang menjadi catatan SUAR dalam study CCB ini adalah Ketika Supriono salah satu tim GJI melakukan survey kondisi rumah tangga. Pria paruh baya itu mendatangi masing-masing dusun untuk melakukan wawancara kepada warga, minimal 10% dari jumlah kepala keluarga (KK) harus di datangi. Jumlah tersebut diharapkan bisa menjadi sample kondisi real rumah tangga yang berada dimasing-masing dusun.
Tim GJI, Supriono saat mewawancarai warga Dusun Merenta. ©SUAR/Ateng
Dari 7 dusun hanya ada 1 dusun yang belum teraliri listrik, Yaitu dusun Merenta. Kondisi jalan juga paling memprihatinkan, semua dusun sudah memilki jalan rabat Beton sedangkan dusun yang letaknya paling jauh dari pusat desa ini masih menggunakan jalan tanah kuning. Selain itu akses menuju dusun tersebut bisa dikatakan ekstrim.
“kalau hujan saya sih gak berani ke dusun itu,” ungkap ketua BPD desa Piawas Faransiskus.
Dengan kondisi seperti itu kadus Merenta dalam wawancara yang dilakukan oleh Tim GJI mengatakan kondisi dusun Merenta memang terisolir bila dibandingkan dengan dusun lainnya di Desa Piawas.
“itulah pak masalah kami, listrik tidak ada, jalan juga sulit, jadi kami
ngerasa terisolir dan dianak tirikan di desa ini. Tapi kami minta sebenarnya yang paling utama adalah listrik pak,” paparnya.
Mendengar pernyataan tersebut pria yang akrab disapa Mas Supri dapat mengerti apa yang diutarakan warga Piawas tersebut, dan mengatakan mungkin nanti SUAR bisa membantu untuk memperbaiki kondisi tersebut dengan berjalannya program ini. Ia melanjutkan, ada lembaga Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), salah satu lembaga yang fokus membangun Pembangkit listrik bertenaga Mikrohidro (PLTMH) yang dimotori oleh Sri Mumpuni.
“Disini kan ada air terjun yang bisa dimanfaatkan,” sarannya.
Serenta pun berharap semoga SUAR dapat membantu memperbaiki kondisi warganya disini.