Oleh Apriliansyah
Tepat di seberang sungai wilayah pemukiman masyarakat ada kebun kopi milik masyarakat Desa Balai Agas. Perjalanan tim SUAR mengunjungi kebun kopi yang harusnya menjadi potensi bagi masyarakat Desa Balai Agas. Namun, kurangnya perhatian dan dukungan dalam pemanfaatan kopi di Desa Balai Agas membuat kebun kopi di sana sudah tak terurus.
Kunjungan tim SUAR ke Kebun Kopi Balai Agas ditemani oleh ketua LPHD, Jaga yang dalam kunjungan juga berdiskusi tentang harapan masyarakat dengan keberadaan kebun kopi. “Seandainya ada pendampingan dari instansi terkait betul-betul ke masyarakat saya rasa mantablah perekonomian kita,” ucap Jaga.
Penelusuran bersama ketua LPHD memandu perjalanan terlihat dalam setiap langkah dipenuhi dengan tanaman kopi berbagai ukuran dari tingkat semai sampai pohon. Kebun kopi ini tampak tidak produktif meskipun pohonnya tumbuh subur tetapi sedikit yang ada buahnya dikarenakan pohon besar sekitaran menutupi cahaya matahari yang dibutuhkan untuk pembentukan bakal buah kopi.
Tanaman kopi yang tumbuh di sekitar hutan di Desa Balai Agas
“Kebun kopi ini sangat luarbiasa kalau dilihat dari kesuburan lokasi ini memang cocok untuk budidaya kopi. hanya saja memang butuh perlakuan khusus karna yang bernilai jual adalah buahnya bukan pohon,” ucap Nasihin dari Tim SUAR.
Meskipun tak terurus, untungnya masyarakat tidak ada yang merusak atau menebang pohon kopi yang ada. Harapan masyarakat kedepan apabila ada pendampingan maupun penyuluhan terhadap potensi kopi maka perlu meningkatkan pengetahuan karna tanah yang menjadi lokasi kebun terbukti cocok untuk tanaman kopi