Potensi Pengembangan Ekowisata Pemancingan Sungai Jembatan Besi Kebebu
SUAR-Nanga Pinoh – Kamis Pagi, 21 Desember 2023 di kantor Forum Pembangunan Berkelanjutan (FPB) petinggi Pasak Kebebu, Desa Nanga Kebebu dan Pasak Birapati, Desa Semadin Lengkong berdiskusi ringan. Mengenai kerjasama melestarikan sungai dekat jembatan Besi di Desa Nanga Kebebu, Jalan Nanga Pinoh Ella.
Seraya sambil ngopi, Yusli, Amran, Abang Adi dan beberapa kawan-kawannya dari Pasak Kebebu berdiskusi dengan Pasak Birapati. Pasak Birapati yang terlibat pembicaraan ada Abdulrahman atau Su Dubet dan Rajuan. Malah mereka berencana akan bergotong royong membersihkan kawasan tersebut.
Pelestarian kawasan ini disebabkan beberapa tahun terakhir kawasan tersebut menjadi sumber ikan air tawar. Banyak warga menangkap ikan dengan cara pukat dapat ikan yang jumlahnya besar. Ada pula yang memancing juga banyak dapat berbagai jenis ikan air tawar.

Kawasan ini menjadi tempat ikan dikarenakan setelah dibuat aliran baru di sungai Kebebu sekitar tahun 2014. Aliran baru ini sebagai antisipasi aliran yang membuat abrasi jalan di sekitar jembatan besi Desa Nanga Kebebu.
Pembuatan aliran baru yang lurus ini membuat adanya pulau atau nusa kecil diantara aliran sungai alam dengan aliran buatan. Aliran sungai alam saat ini malah menjadi kolam. Kolam tersebut tetap memiliki air disebabkan suplai air dari Sungai Mulong. Sungai Mulong sendiri memiliki dua aliran di muara.
Satu aliran masuk ke kolam. Satunya lagi masuk ke Sungai Kebebu yang aliran buatan. Cabang atau 2 aliran sungai Mulung di muara tersebut juga membantuk pulau atau nusa dengan luas sekitar 2 hektar. Mereka berencana akan membuat gupung (Kabun buah-buahan) di nusa tersebut.
“Kita bersihkan di sekitar kawasan itu, membersihkan dari sampah-sampah. Kalau kita ramai, tidak cukup satu hari,” kata Rajuan.
Abdulrahman menimpali ke depan ini bisa menjadi ekowisata pemancingan. Yang diamini oleh seluruh orang yang terlibat dalam diskusi. Diskusi mereka ini sampai pada wacana untuk memilih kepala Sungai atau Gana (Penunggu). Tugasnya mengkoordinir untuk pelestarian Sungai. Setiap ada pihak luar yang akan memasuki sungai, harus mendapatkan izin dari Kepala Sungai.
“Jadi kalau ada yang ingin masuk sungai harus meminta izin dari kepala sungai. Ke depan, dengan perkembangan teknologi, orang yang akan masuk sungai tinggal scan barcode. Langsung sudah terdeteksi. Itu ke depan,” katanya.
Di Dusun Kebebu, desa Nanga Kebebu sendiri ada 36 Sungai. Bila ini direalisasikan, ada 36 orang Kepala Sungai di Dusun Kebebu, Desa Nanga Kebebu. Ada pun sungai tersebut adalah Sungai Ranak, Tanjung Paser, Sungai Same, Balai Boyok, Lubang Gerai, Batu Onap dan Lubok Onap. Ada juga Sungai Menyalong,
Sungai Pantong, Danau Kubur, Sungai Sengkumang, Sungai Pekucong dan Sungai Sasok. Ditambah lagi Lobak Kenual, Sungai Popay, Tolok Pirin, Tolok Tempurong dan Kubur Katab.
Termasuk Sungai Saka Dua, Batu Mentawak, Sungai Kebubu, Lahan Kosong dan Batu Tabai. Salah satu desa di Kecamatan Nanga Pinoh ini juga memiliki Batu Tungku, Batu Seladang, Tolok Kebubu, Istana dan Sungai Boyuk. Bukan hanya itu, Sungai Paloh, Sungai Ipuh, Lobak Gagai, Sungai Petompit, Sunagi Bakau, Sungai Randan, Sungai Rangkap dan Sungai Belidak.
Sementara di Desa Semadin Lengkong, khusus sungai yang berhubungan dengan hutan Birapati sebanyak 22 Sungai. Yakni, Sungai Mulong, sungai Kesopuk, Sungai Tapang Gonong, Sungai Peminang, Sungai Tebaner, Sungai Tebelian dan Sungai Perobang. Di situ ada juga Sungai Pinahan, sungai Mulong linang, Sungai Adau, Sungai Mulong doras, Sungai Seligi, Sungai Sawak dan Ssungai Keladan.
Ada juga Sungai Pelubang Tapang, Sungai Pelubang Tekuyong, Sungai Pelubang Ipuh, Sungai Pelubang Induk, Sungai Lobang Rabu, Sungai Belangsai. Dua sungai lainnya adalah Sungai Gamer dan Sungai Beruang (taji)

