Di Antara Api dan Hutan: Perjuangan Tim Karhutla Menjaga Hutan Desa

Ketika sinar matahari perlahan mengusir embun dari daun-daun milik pepohonan khas hutan hujan tropis, enam pasang langkah kaki mulai menyusuri tanah selangkah demi selangkah menuju tepian Hutan Desa Balai Agas. Semakin jauh mereka meninggalkan desa, matahari kian meninggi. Keringat mulai muncul di wajah dan baju mulai basah. Bukan hanya tanda perjalanan yang sudah panjang, tetapi juga tanda udara panas di tengah El Niño yang sudah berlangsung hampir dua bulan yang kian terasa.

Kepulan asap di kejauhan menjadi penanda Balai Agas pada Agustus ini memasuki awal musim berladang. Bagi sebagian orang, itu hanya sekedar bagian dari aktivitas berladang. Namun untuk Tim Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Balai Agas, ini adalah tanda bahwa kewaspadaan tidak boleh diturunkan.

Ada aktivitas bakar lahan di sekitar Hutan Desa yang harus dipantau. Ada api yang harus dijaga. Ekosistem kompleks hutan hujan tropis seluas 4.641 hektar yang tidak boleh terancam. Hamparan yang mengisi sebagian wilayah Desa Balai Agas, Kecamatan Belimbing, Kabupaten Melawi ini bukan kawasan kecil. Apalagi menjaganya di tengah awal musim berladang dan kondisi El Nino, 12 anggota tim yang dibagi ke dalam dua regu saling haus saling bahu-membahu.

Di tengah persoalan itu, Acian, Ketua Regu 2 Tim Karhutla LPHD Balai Agas, melihat persoalan kebakaran dari sisi yang lebih manusiawi. Bagi dia, di dalam api ada kehidupan. Itu juga yang mempengaruhi cara pandang Tim Karhutla.

“Masyarakat nonu lahai paki beumo untok memonuh kebutuhan saari-ari. Bepokaet dengan masyarakat dengan beluboh, ago pesoal etuk bekaek dengan sampu nasi. (Masyarakat membakar lahan untuk berladang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Komunikasi dengan masyarakat harus dilakukan dengan hati-hati, karena persoalan ini berkaitan dengan urusan perut mereka), ucap Acian dalam bahasa Dayak setempat.

Pandangan itu membuat tugas tim tidak sesederhana memadamkan api. Mereka harus menjaga hutan tanpa memutus hubungan dengan masyarakat yang menggantungkan penghidupannya dari lahan. Karena itu, komunikasi menjadi bagian penting dari pekerjaan. Ada kebutuhan untuk membangun kepercayaan agar masyarakat memahami bahwa menjaga hutan bukan berarti mengabaikan kebutuhan mereka.

Pencegahan Karhutla ini bagian dari membangun ketahanan bencana di tingkat komunitas. Ketahanan bukan hanya kemampuan menghadapi api ketika kebakaran terjadi, tetapi juga kemampuan masyarakat mengenali risiko, berkomunikasi lebih awal, menyiapkan sumber daya, dan mengambil keputusan bersama sebelum keadaan menjadi darurat.

LPHD memiliki posisi penting untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Komunikasi dengan masyarakat tidak cukup dilakukan ketika api sudah muncul. Informasi tentang kondisi cuaca, lokasi yang rawan, arah angin, batas Hutan Desa, hingga langkah yang harus dilakukan ketika api mulai sulit dikendalikan perlu terus dibicarakan bersama masyarakat. Melalui komunikasi rutin, pengetahuan tentang risiko kebakaran tidak berhenti di anggota Tim Karhutla, tetapi menjadi pengetahuan bersama di tingkat komunitas.

Di sekitar kawasan Hutan Desa, tim memantau aktivitas pembakaran yang dilakukan para peladang. Mereka melihat arah angin, mengamati kondisi vegetasi, memeriksa batas antara lahan yang dibakar dengan kawasan hutan, dan memastikan api tetap berada di area yang telah ditentukan. 

Dari proses itu, LPHD dapat membangun kebiasaan sederhana di tengah masyarakat: saling memberi kabar ketika akan membuka lahan, menyampaikan kondisi angin dan cuaca, serta segera melaporkan jika api mulai bergerak di luar kendali. Pola komunikasi semacam ini membuat pencegahan tidak bergantung pada kecepatan tim ketika keadaan sudah membesar, melainkan bertumpu pada kewaspadaan bersama.

Pendekatan tersebut juga membuka ruang bagi LPHD untuk mencari solusi bersama masyarakat. Ketika peladang menghadapi persoalan dalam mengendalikan api, misalnya keterbatasan air atau jarak sumber air yang jauh, persoalannya perlu dibicarakan sebagai masalah bersama. Dari sana dapat dicari titik-titik sumber air yang memungkinkan dimanfaatkan saat darurat, jalur akses menuju lokasi rawan, serta pembagian peran siapa yang menghubungi tim dan siapa yang membantu di lapangan.

Di medan yang luas, tim harus semakin mengenal wilayah. Mereka harus tahu jalur menuju lokasi, mengetahui titik-titik rawan, mengenali aktivitas masyarakat, dan membaca perubahan kondisi di lapangan. Sebab dalam pencegahan Karhutla, kemenangan sering kali bukan ditandai dengan berhasil memadamkan api besar. Kemenangan justru terjadi ketika api besar itu tidak pernah sempat sampai ke Hutan Desa. 

Ketika sebagian orang memilih menjauh dari asap, anggota tim justru bergerak mendekatinya. Bukan karena mereka tidak takut, tetapi karena mereka tahu apa yang dipertaruhkan. Kami ingin menjaga hutan dan membantu masyarakat supaya api tetap terkendali. Kalau ada pembakaran dekat hutan, kami harus berada di sana. Selama api masih bisa dikendalikan, kami akan bantu pantau. Jangan sampai api itu lari ke hutan,” tambah Acian.

Perjuangan itu tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Banyak lokasi ladang berada jauh dari sumber air sehingga pemadaman menjadi sulit. Mesin pompa air memiliki keterbatasan ketika air harus dialirkan ke lokasi yang jauh atau menanjak. Dalam kondisi tertentu, tim harus menggunakan tangki manual untuk mengangkut air. Di sisi lain, masih ada lokasi yang belum seluruhnya didatangi dalam patroli.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan bencana komunitas juga membutuhkan kesiapan sarana. Bukan hanya jumlah personel, tetapi juga perlengkapan yang memungkinkan mereka bergerak cepat ketika api muncul. Karena itu, LPHD dan para pihak perlu secara bertahap mengidentifikasi kebutuhan peralatan pemadam, memastikan peralatan yang tersedia benar-benar berfungsi, serta melengkapi kekurangan yang paling mendesak.

Persoalan sumber air juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan. Pemetaan sumber air di sekitar kawasan rawan, penentuan titik yang mudah dijangkau, dan penyusunan cara membawa air ke lokasi kebakaran dapat menjadi langkah sederhana namun penting. Dengan begitu, ketika kebakaran terjadi, tim tidak memulai dari nol untuk mencari air atau menentukan jalur menuju lokasi.

Kesiapsiagaan semacam ini bukan berarti menunggu datangnya kebakaran. Justru semakin baik persiapan dilakukan sebelum api muncul, semakin besar peluang masyarakat dan LPHD mengendalikan kebakaran pada tahap awal. Peralatan yang lengkap, sumber air yang diketahui, jalur akses yang dipahami, serta komunikasi yang berjalan dapat menjadi satu sistem pertahanan komunitas untuk menjaga Hutan Desa.

Pertaruhannya ketika api lepas kendali bukan hanya kawasan atau beberapa batang pohon. Hutan Desa Balai Agas menyimpan fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar angka di atas peta. Hutan menjadi sumber air, tempat tumbuhnya berbagai hasil hutan seperti damar dan bajakah, serta habitat satwa liar. Hutan juga menjadi cadangan bagi generasi yang akan datang. Karena itu, ketika api mendekati kawasan tersebut, yang dipertaruhkan bukan hanya pohon. Ada sumber penghidupan, air, keanekaragaman hayati, dan masa depan yang ikut dipertaruhkan. 

Itulah sebabnya Tim Karhutla terus bergerak. Mereka berpatroli, memantau, berkomunikasi dengan peladang, dan membantu mengendalikan pembakaran di sekitar kawasan. Mereka tidak sedang berperang melawan masyarakat. Mereka sedang berusaha menjaga keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan keberlangsungan hutan untuk hari esok.

Upaya itu, menurut Direktur Sangga Utama Alam Raya (SUAR), Sukartaji, tidak semestinya dipandang sebagai pekerjaan satu kelompok saja. Pencegahan kebakaran membutuhkan kewaspadaan sejak dini, antisipasi di lapangan, dan keterlibatan berbagai pihak. Karena dampak dari kebakaran ini akan dirasakan semua orang.

“Kita apresiasi apa yang dilakukan oleh tim karhutla LPHD Balai Agas. Kewaspadaan, antisipasi, dan mitigasi kebakaran ini harus menjadi perhatian bersama semua elemen. Sebab dampak juga kita rasakan bersama tanpa pandang bulu.” ucap Sukartaji.

Pada akhirnya, pekerjaan mereka mungkin tidak selalu terlihat. Tidak ada sorotan ketika api berhasil dijaga agar tak menyentuh. Namun selama api tidak merambat dan hutan tetap berdiri, perjuangan mereka telah menghasilkan sesuatu yang sangat berarti. Di antara ladang dan hutan, di antara kebutuhan manusia dan ancaman api, mereka memilih untuk tetap berada di sana. Karena bagi Acian alasannya sederhana. “Hutan harus tetap ada,” katanya.

Ketahanan itu pada akhirnya dibangun dari hal-hal yang tampak sederhana. Masyarakat yang mau saling memberi informasi, LPHD yang terus membuka komunikasi, tim yang memahami wilayah, sumber air yang telah dipetakan, dan perlengkapan yang siap digunakan. Semuanya menjadi penting karena kebakaran tidak selalu memberi banyak waktu untuk bersiap setelah api membesar.

Penulis: Aris Munandar / Fasilitator Hutan Desa Balai Agas

Leave a Comment