Oleh : Athenk
Siapa sih yang tidak butuh ilmu pengetahuan di dunia ini? Dalam setiap aktivitas manusia pasti dibutuhkan pengetahuan untuk menjalankannya. Kita ambil contoh saja yang paling dekat dengan hidup kita saat ini “Smartphone” tampak familiar dan akrab dengan diri manusia, namun tanpa sadar kita butuh banyak pengetahuan untuk mengoperasikan benda tersebut. Kita butuh tahu apa itu android? apa itu ram? Apa itu memori, apa itu email, bagaimana membuatnya? bagaimana mengoperasikannya? Dan lain sebagainya.
Itu baru saja hal remeh temeh, bagaimana dengan sesuatu yang besar, seperti dunia? negara? Pasti butuh banyak sekali pengetahuan agar keberlangsungannya meneandung nilai-nilai keadilan dan berkelanjutan. Namun tulisan ini tidak ingin membahas hal tersebut, terlalu besar dan terlalu muluk-muluk dan susah digapai bagi kita masyarakat biasa ini.
Tulisan ini hanya ingin membicarakan pengetahuan tingkat Lembaga Sangga Utama Alam Raya (SUAR) yang berdomisili di Kabupaten Melawi. Baru saja melakukan workshop manajemen knowledge pada tanggal 9 hingga 12 februari di kantor SUAR dan difasiltasi oleh Dedy Wahyudi yang merupakan staf WWF Indonesia Sintang Melawi Project.
“Knowledge didalam Lembaga itu terbagi menjadi dua yaitu Knowledge dari individu-individu yang berada didalam Lembaga dan knowledge komunal. Dua macam knowledge ini akan menggambarkan seperti apa knowledge Lembaga sehingga ini nanti akan menjadi knowledge Lembaga” ungkap Dedy dalam pengantar pelatihan tersebut.
Dalam pelatihan tersebut SUAR lebih fokus pada mengelola pengetahuan yang dibutuhkan untuk mencapai target Rencana Strategis (SP) tahun 2021 sampai dengan 2025. Kebutuhan knowledge didasarkan pada outcome SP. Dari hasil Analisa dalam pelatihan tersebut dibutuhkan setidaknya 36 knowledge agar SP dapat berjalan dengan baik hingga 2025 nanti.
4 besar knowledge yang dibutuhkan oleh SUAR yaitu Advokasi kebijakan, Pengelolaan DAS, Stekeholder Enggegemen dan konsevasi ekosistem. Yang mana apabila dikaji lebih dalam keempat pengetahuan itu selaras dengan kebutuhan Visi SUAR yaitu Pengelolaan SDA secara mandiri dan berkelanjutan melalui peran aktif para pihak.
Selain itu ada satu titik tekan lagi pada pelatihan tersebut, untuk mencapai outcome SP dibutuhkan pengetahuan komunikasi yang baik bagi staf SUAR. Staf yang memiliki keahlian ini harus terlibat penuh dalam setiap program dan harus terlibat dalam perencanaan program juga. Dan kerja-kerja orang komunikasi bukan hanya tentang membuat produk komunikasi tentang keberhasilan program melainkan harus membuat juga strategi komunikasi untuk mencapai keberhasilan program.
Praktik baik dari pemahaman itu SUAR akan membangun SOP komunikasi lembaga, jadi bagaimana data-data yang ada dikembangkan menjadi informasi dan informasi mana saja yang dapat dipublish ke publik dan mana saja informasi yang hanya dapat dikonsumsi staf. Selain itu pasca pelatihan ini masing-masing staf SUAR mulai mengejar keahlian khusus yang harus dimiliki untuk mensukseskan SP yang telah dibangun.