Ikut Pameran Nasional di Jogja, Pasak Kebebu Tampilkan Olahan Buah Lokal

Lembaga Pasak Kebebu, Dusun Kebebu, Desa Nanga Kebebu, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat mengikut pameran tingkat nasional, di Provinsi Jogjakarta. Dalam pameran bertema, Perjalanan Memaknai Berkelanjutan tersebut Pasak Kebebu menampilkan produk makanan olahan dari buah lokal. Buah lokal ini berasal dari Hutan Adat Kelokak Kebubu. Buah lokal yang ditampilkan dalam pameran yang diselengarakan mitra program Leading the Change (LtC) Education Sustainable Development (ESD) WWF Indonesia dibuat oleh masyarakat Kebebu sendiri. Adapun produknya, lempok durian,  tempoyak, sirup belimbing, dodol malai, dodol perenggi, gula enau, cuka enau, daun pawas, daun ubai, kadaung dan kopi bogo.
Saparudin menunjukan Kopi dan dodol dari Hutan Adat Kelokak Kebubu
Makanan olahan ini dibawa oleh Saparadin , Kebayan (sekretaris) Pasak Kebebu. Dia pun menjelaskan sedikit tetang makanan olahan dari hutan adat ini. Kopi Bogo, kata laki-laki yang akrab disapa Udin ini mulai diproduksi lagi oleh masyarakat  Kebebu. Dulu,  Kebebu penghasil kopi, tetapi di awal tahun 2000-an tanaman kopi tidak dirawat dan ditinggalkan. Namun beberapa tahun belakangan ini masyarakat kembali menanam kopi lokal tersebut. Racikan kopi lokal ini dilakukan dengan resep orang tua zaman dulu. Hingga rasanya khas Olahan tradisional lainnya, ada dodol malai dan dodol perenggi yang diracik secara tradisional. Demikian pula dengan pula dengan lempok durian dan tempoyak yang dibuat sesuai dengan kearipan lokal. “Olahan makanan ini dibuat secara stradisional dengan serep orang tua kita zaman dulu. Misalnya, dodol malai, testurnya seperti lempuk durian. Campran antara buah malai, santan kelapa dan gula aren,” terang ayah dari dua anak ini. Adanya beberapa makanan olahan dari Kelokak Kebubu ungkap Udin, hanya sebagian dari produk bahan baku kekayaan alam dari Desa Nanga Kebebu. Tambah Udin, ketika berdiskusi panjang dengan Lembaga Suar. Sampai ada pelatihan terkait dengan olahan-olahan kekayaan dari Nanga Kebebu. “Adanya pameran ini bagian dari upayakan kita mempromosikan produk olahan. Banyak potensi yang bisa digarap bersama dengan pihak luar. MIsalnya, kopi, kita ada kopi lokal, kita juga bisa menanam lagi, karena masih banyak lahan yang bisa ditanami di hutan adat kita,” pungkasnya. (taji)

Leave a Comment