Belajar Berbisnis Pangan Lokal di Lingkar Organik

Foto bersama Peserta studi banding di depan Kantor Lingkar Organik.
Oleh Eko Susilo Yogyakarta-SUAR, Usai hiruk pikuk kegiatan pameran, pelatihan hingga konferensi yang padat di pusat kota Yogyakarta, 17-24 Mei, SUAR dan Forum Pembangunan Berkelanjutan (FPB) melanjutkan kegiatan studi banding. Tujuannya di kabupaten terluas di Yogyakarta yakni Sleman. Sleman dikenal sebagai daerah pertanian yang subur dan menjadi lumbung padi Yogyakarta. Banyak persawahan yang membentang di sejumlah kalurahan dan kapanewon di sana. Kalurahan sebutan khas untuk desa dan kapanewon adalah kecamatan. Menggunakan dua unit mobil, tim SUAR dan FPB sebanyak 10 orang kemudian menuju kecamatan Kalasan, Sleman yang jaraknya dekat dengan candi Prambanan ini. Kantor Lingkar Organik menjadi tujuannya. SUAR dan peserta studi banding sudah ditunggu Wahyuni Wulandari, staf Lingkar Organik. Tanpa berbasa basi, kami pun langsung bertemu dengan Direktur Lingkar Organik serta para pendiri dan pengagas badan usaha ini. Dua teko air telang langsung menjadi sasaran para peserta studi banding yang memang datang dengan kondisi kehausan.  Minuman yang berasal dari Bunga Telang dengan warna biru mirip spritus itu langsung memberikan kesegaran bagi kami. Ada empat orang Lingkar Organik yang menyambut dan memberikan paparan pada SUAR dan FPB dalam pertemuan di Kantor siang itu, Kamis (24/5). Diantaranya Mas Wiji yang merupakan founder atau pendiri Sumbu Pakarti, yayasan awal yang menginisiasi pendirian Lingkar Organik serta Mas Kris yang didaulat menjadi Direktur Lingkar Organik. Selanjutnya tentu Wahyuni Wulandari yang ternyata merupakan aktivitas pendamping  pemberdayaan serta penggalian potensi. Serta Vita yang menjadi staf Lingkar Organik.
Mas Wiji, pendiri Sumbu Pakarti dan Lingkar Organik saat memaparkan visi dan program pemberdayaan petani serta bisnis plan pangan organik
Wiji, inisiator Lingkar Organik ini menjelaskan perusahaan ini didirikan sejak 2006. Ia menerangkan dalam Lingkar Organik, ada dua lembaga namun menjadi satu seperti mata uang yg tak bisa dipisahkan. “Ada Sumbu Pakarti, awalnya lembaga ini adalah LSM untuk pendidikan anak anak. Bantu pembiayaan sekolah, les sampai peralatan sekolah. Membangun ruang belajar. Seperti LSM pendidikan,” katanya. Wiji mengungkapkan, setahun sebelum berdiri, ia melihat fenomena banyaknya anak yang putus sekolah di wilayah dampingannya. Setelah diteliti, faktor utamanya ternyata masalah ekonomi. Inisiatif pun muncul bagaimana agar lembaga yang ia dirikan punya kontribusi agar orang tua anak-anak ini punya kemampuan untuk membiayai sekolah anaknya. Lambat laun, Sumbu Pakarti juga bergerak ke sektor pemberdayaan masyarakat. Yayasan ini kemudian ikut mendampingi petani. Memberikan penyuluhan dan berbagai transfer ilmu lainnya, dengan harapan petani mampu meningkatkan taraf hidupnya. “Tapi disitu juga kita sadar kalau ternyata kita ga tau apa apa sebenarnya. Karena waktu kita memberikan pendampingan, tapi pada prakteknya kita itu bisa disebut gagal. Transfer pengetahuannya ada, ngajarin ini itu. Tapi disatu sisi, kalau tidak bisa dijual ya bagaimana. Kalaupun kita bikin sesuatu yang bagus tapi tak bisa dijual ya susah juga,” katanya. Wiji bersama rekan-rekannya berpikir apa yang bisa menjadi wadah agar bisa terus melakukan pemberdayaan namun juga tetap berkelanjutan. Disatu sisi juga kegiatan mereka awalnya masih sangat tergantung pada donor, sehingga terbatas dari sisi keuangan. “Kita kemudian ingin mengembangkan bagaimana ini bisa berlanjut secara bisnis serta bisa membiayai aktivitas di Sumbu Pakarti,” katanya. Wiji menjelaskan sebenarnya petani sudah tahu cara berproduksi yang terbaik, hanya memang pihaknya tidak bisa membantu untuk pemasaran. Peran ini yang coba diambil di lingkaran bisnis dengan mendirikan lingkar organik. “Menghubungkan petani dan pasar yang luas agar bisa menjembatani dan membangun pasar yang luas. Keuntungan itu digunakan untuk mengelola dua lembaga itu, ” katanya. Wiji menyampaikan Lingkar Organik menerapkan bisnis model canvas. Tak cuma itu, lembaga ini juga mencari produk atau bahan lokal yang sifatnya punya efek domino. ” Misalnya di satu wilayah menghasilkannya durian, tapi dia melupakan bahwa dalam proses durian ada rantai yang bunganya lebih mahal atau pohonnya lebih mahal. Ini ketemunya dengan kebutuhan pasar, ” katanya Sumbu Pakarti, kaya Wiji misalnya mengajak petani menanam beras dan kacang-kacangan. Justru dalam tindak lanjutnya ternyata ada produk lain yang ditempatkan dan memiliki potensi untuk dikembangkan, misalnya menjadi  bumbu masak. Pendampingan ini kini pun meluas hingga 30-40 kelompok tani dengan jumlah petani Kurang lebih 1.500 petani. “Dari lingkaran bisnis juga bisa membiayai sumbu pakarti dengan 60 sanggar belajar, ” jelasnya.
Rahayu, staf SUAR menunjukkan sejumlah produk pangan organik yang didistribusikan Lingkar Organik
Wiji memaparkan, Filosofi Lingkar Organik mengembangkan lokal dan memaksimalkan yang organik dan mandiri. Lingkar Organik juga mengalami jatuh bangun bisnis mulai ditinggal donatur hingga pernah ditipu oleh rekanan. “Kita pernah salah langkah, pesan satu, dua lancar. Yang berikutnya tak dibayar. Atau beras kami dikembalikan konsumen, ” ungkapnya. Wiji menyampaikan tips dalam membangun bisnis. Harus ada survei pasar, untuk mencari pasar. Kunjungan ke pasar, lihat data BPS, di survei langsung ke lapangan, apa yang dibutuhkan. “Sekarang kita mencoba mengembangkan mie dari tepung singkong karena ternyata peminatnya banyak. Di pasar sebenarnya ada yang sudah produksi, tapi masih dicampur terigu,” lanjutnya. Begitu pula dengan metode pendekatan dengan petani. Wiji menyampaikan, pihaknya terlebih dahulu berbincang kebutuhan dengan petani, kemudian diatur bagaimana membuat produk bersama. “Kita datang belajar ke teman petani dulu, produk nya seperti apa. Kalau sudah kenal, bagaimana setiap proses harus organik.  Untuk menjaga mutu, misalnya kasus kelapa, harus begini, harus sesuai SOP. Ternyata di kampung SOP nya beda. Nah, pendekatannya harus dengan kearifan lokal, ” katanya. Wiji menegaskan terjun ke bisnis sangat tergantung kontinuitas.  Memang ada produk yang tidak tersedia setiap bulan. Jadi manajemen waktu yang diatur. “Finance, ini bagian penting. Bagaimana manajemen keuangan dijalankan,” pesannya Wahyuni Wulandari menambahkan dalam menggali potensi, perlu melihat lokasi yang akan didampingi, peluangnya apa. “Sempat ada lokasi, kami punya banyak pisang. Jadi dalam web kami juga kelola tepung pisang. Ternyata maksudnya banyak pisang, tapi pisang ambon atau manis, seperti pisang emas. Mereka budidaya dan tanam. Kemudian saya masuk, saya lihat yang ditemukan justru Lada,” katanya Pisang buah kata Yuni lebih mahal harganya. Sementara yang dikembangkan Lingkar Organik adalah produk yang bisa meningkatkan nilai jual. Ada jenis pisang yang dipasaran tidak laku dan cocok dibuat menjadi tepung. Area tanamnya juga memanfaatkan lahan yang tidak produktif misalnya  dikembangkan lereng atau lahan “Ada area yang yang bagus untuk dikembangkan adalah lada. Saya tidak mengembangkan lada, tapi memang sudah ada yang menanam lada. Bagaimana lada punya nilai jual, dikelola menjadi Lada hitam dan Lada putih, yang punya teknik pengelolaan tersendiri. Dan ini yang membedakan dengan pasar. Ada teknik yang didapat saat pasca panen agar Lada tetap harum,” ungkapnya. Lingkar Organik juga memperhatikan soal sertifikasi produk. Sertifikasi dilakukan setiap beberapa tahun sekali. Dan biaya sertifikasi, dibebankan konsumen, tapi tentu nya tidak terasa karena ditetapkan ke harga jual sebesar Rp 100 rupiah per kilo. “Misalnya beras harga 13 ribu menjadi Rp 13.100. Dan ini bentuk komitmen untuk membantu petani,” lanjutnya.
Peserta studi banding dari SUAR dan FPB menyimak serius paparan manajemen Lingkar Organik
Direktur Lingkar Organik, Kris menerangkan dalam konsep pemberdayaan dilakukan justru bukan dengan memberikan uang, karena justru menjerumuskan pihak yang dibantu menjadi ketergantungan. “Berangkat dari usaha kita menghasilkan produk. Soal untung berapa nanti kita bahasnya karena ini sensitif. Biar teman teman petani yang menghitung sendiri. Bagaimana mendampingi petani,  biaya berapa, pupuk berapa, sehingga mereka tahu jual berapa dan untung berapa,” katanya. Lingkar Organik kata Kris punya standar untuk produk yang dihasilkan petani. Lingkar organik juga mendampingi dan juga menyediakan pasar. Namun dengan kriteria dan standar yang harus dipenuhi. “Kita mendampingi untuk petani mencapai standar itu,” katanya. (berlanjut).

Leave a Comment