Diseminasi Usai Studi Banding di Yogyakarta, Semangat Membangun Ekowisata Lokal

Foto : Diseminasi hasil studi banding yang digelar SUAR dengan menghadirkan sejumlah anggota Forum Pembangunan Berkelanjutan serta perwakilan Pasak Kebebu, Pasak Sebaju dan Pasak Birapati. Foto Doc SUAR
Oleh : Eko Susilo SUAR-Melawi, Pasca studi banding ke Desa Wisata Nglanggeran dan juga Lingkar Organik di Yogyakarta beberapa waktu lalu, SUAR dan FPB Melawi menggelar diseminasi di Kantor SUAR, Minggu (4/6). Diseminasi ini menjadi tindaklanjut untuk saling berbagi cerita dan pengalaman yang didapat dari pelaksanaan studi banding tersebut. Seperti diketahui, perwakilan tiga lembaga adat yakni Pasak Kebebu, Pasak Sebaju, Pasak Birapati, serta sejumlah komunitas seperti Benih dan Kepuak yang bernaung di dalam Forum Pembangunan Berkelanjutan (FPB) Melawi, mengikuti even pameran, konferensi, hingga pelatihan manajemen knowledge serta studi banding selama kurang lebih dua pekan. Ketua SUAR, Sukartaji menyampaikan, banyak ilmu dan ide yang didapatkan dari pelaksanaan kegiatan selama di Yogyakarta yang dihelat sejak 19-28 Mei itu. Diantaranya soal inisiatif bersama masyarakat untuk membangun ekowisata di desa seperti Nglanggeran yang kini diakui menjadi desa wisata nomor 1 di Indonesia bahkan dunia. “Selain itu, belajar dengan Lingkar Organik sebagai perusahaan yang juga mendampingi petani dengan total ribuan petani mampu menghasilkan 100 jenis produk lokal dan turunannya. Dari sana kita belajar, bahwa potensi pertanian ini dapat dimaksimalkan bila dilakukan dengan tata kelola yang baik serta juga terfokus,” katanya. Perwakilan Melawi, lanjut Sukartaji juga sebenarnya sudah punya modal, diantaranya adalah ada 15 produk pangan yang dipamerkan dalam ajang pameran di Yogyakarta. Produk seperti Madu Kelulut, Sirup asam maram, salai lele, dan makanan lokal ini tinggal dikembangkan dengan maksimal. “Kita sekarang sudah punya kepercayaan diri, tinggal bagaimana membangun tata kelola dengan maksimal,” ucapnya. Saparudin, perwakilan Pasak Kebebu yang turut serta dalam studi banding hingga pameran di Yogya menyebutkan banyak ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan. Salah satunya soal pengelolaan madu kelulut yang ternyata memang perlu proses khusus agar saat dikemas tidak lagi meletus. “Misalnya madu harus dikukus dalam botol agar menghilangkan kadar air atau bakteri. Ini hal baru yang kita dapatkan. Juga soal pengelolaan wisata yang luar biasa di Nglanggeran. Bagaimana bisa ekowisata menghadirkan perputaran ekonomi dan berdampak banyak bagi kelompok-kelompok seperti petani, peternak, hingga terkait penyediaan homestay bagi warga sekitar,” katanya. Ketua FPB, Firman pun menilai, banyak hal serupa yang bisa dikembangkan untuk mengadopsi pola ekowisata di Yogya dan menerapkannya di Melawi, khususnya di Desa Kebebu dan Semadin lengkong. Yang terpenting, dimulai dengan hal yang sederhana. “Misalnya kegiatan makan buah atau bersaprah di Kebebu, bisa dipadukan dengan kegiatan penampilan budaya, seperti hadrah. Nanti kita undang orang dari luar, dan tentunya kita harapkan mereka membayar. Seperti di Nglanggeran, ada paket untuk melihat peternakan kambing, atau pengelolaan coklat,” katanya.

Leave a Comment