Manggala Agni Ponja Melawi: Program Paham Dapat Cegah dan Kendalikan Karhutla

Nanga Pinoh, SUAR. Manggala Agni Pondok Kerja (Ponja) Melawi yang di bawah Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Dirjen PHKA), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI), mengharapkan program Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (Paham) yang dikerjakan Perkumpulan Sangga Utama Alam Raya (SUAR), dapat membantu pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

“Harapan kami dari Manggala Agni dan sudah jadi tugas kami untuk masyarakat yang peduli api, program Paham yang dilaksanakan SUAR semoga mendukung pencegahan dan pengendalian Karhutla. Terutama pengamanan kawasan di wilayah kelola dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD),” harap Tri Sulayadi, Komandan Brigade Manggala Agni Ponja Melawi di Pendidikan dan Pelatihan (diklat) Pencegahan dan Pengendalian Api di Balai Pertemuan Desa Nusa Kenyikap kecamatan Belimbing kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Sabtu, 29 Juni 2023.

Dikatakannya warga desa yang peduli api merupakan mitra kerja Manggala Agni Ponja Melawi. Melawi Diklat Pencegahan dan Pengendalian Api, diharapkan dapat menambah pemahaman hingga ilmu pengetahuan ihwal pencegahan dan pengendalian Karhutla di kawasan hutan di desa Nusa Kenyikap, Piawas, dan Balai Agas.

“Ilmu pengetahuan dan pengalaman hasil dari pelatihan langsung di dalam ruangan dan di lapangan, diharapkan para peserta ini dapat menularkan pengetahuannya ke warga desa lainnya. Sebab pencegahan dan pengendalian Karhutla menjadi tugas banyak pihak dan perlu Kerjasama yang saling berkesinambungan,” kupas Tri Sulayadi.

Tim Manggala Agni Ponja Melawi di Diklat Pencegahan dan Pengendalian Karhutla, dipimpin Komandan Brigade Manggala Agni Ponja Melawi, Tri Sulayadhi. Dibantu tiga personil aktif, yaitu Silahuddin Syafi’I, M Ilham Alpandi, dan Lorensius Oky. Didukung beberapa dinas kendaraan bermotor roda dua dan satu roda empat, sesuai standar operasi di lapangan dengan banyak tipe medan yang dilalui.

Semua pelatih Manggaka Agni Ponja Melawi memperagakan semua contoh alat-alat pencegahan dan pemadaman Karhutla yang dimiliki. Bahkan beberapa alat, masih tidak ada suku cadangnya di Kalimantan Barat dan harus dipasok dari Kalimantan Timur.

“Cara membawa dan memegang skop, penggaruk, pengibas, dan lain-lain untuk pencegahan pengendalian dan pengendalian api, tidak sama membawa cangkul ke sawah. Biasanya saudara-saudara kita membawa cangkul dengan dipanggul di atas bahu. Nah untuk pemadaman kebakaran di hutan, tidak boleh dipanggul,” tegas Tri Sulayadi.

“Alasannya, medan di hutan tidak mudah ditebak. Peralatan yang dipanggul ketika dibawa berlari dan melompati medan berat, dapat melakui kita sendiri. Jadi jangan pernah dipanggul tapi ditenteng dan pegang di ujung dekat skop dan lain-lain,” pesan Tri Sulayadi.

Apalagi kebakaran hutan dan lahan terjadi ketika semua elemen penyulutan api terkumpul di area rentan. Sumber penyalaan dihadapkan dengan bahan mudah terbakar, seperti vegetasi rentan dengan panas. Ketika mengalami panas cukup dan memiliki pasokan oksigen cukup dari udara sekitar, api mudah berkobar di lokasi pemadaman dan tidak terduga.

“Jadi prosedur operasional standar dalam pemadaman api wajib ditaati bersama. Demi keselamatan diri sendiri dan rekan-rekan lain di lokasi pemadaman api. Disebabkan kondisi hutan dan lahan mudah melukai tim pemadam kebakaran, biasanya kita beropasi di siang hari dan menghindari kerja di malam api. Sekali lagi, medan hutan yang terbakar tidak sama dengan kebakaran rumah. Jadi harus lebih waspada,” pesannya lagi.

Penulis: Apriliansyah

Editor: SUAR

Leave a Comment