Peserta Diklat Pencegahan dan Pengendalian Karhutla Gembira Aplikasi Langsung di Lapangan

Nanga Pinoh, SUAR. Program Manager Program Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (Paham) Perkumpulan Sangga Utama Alam Raya (SUAR), Sri Ranti Zahra memimpin pendidikan dan latihan (Diklat) pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Menghadirkan tim Manggala Agni Pondok Kerja (Ponja) Melawi di desa Nusa Kenyikap kecamatan Belimbing kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Sabtu, 29 Juli 2023.

“Pagi pelatihan di dalam ruangan berada di Balai Pertemuan Nusa Kenyikap, menghadirkan narasumber dari Manggala Agni Ponja Melawi. Istirahat makan siang di kediaman Yohanes Tupi. Setelah itu langsung praktik di tepian sungai Menunuk desa Nusa Kenyikap,” kata Sri Ranti Zahra.

Fasilitator dari Perkumpulan SUAR, dipimpin program manajer Paham, Sri Ranti Zahra dibantu fasilitator Muhammad Zulkifli, Muhammad Faisal, Muhammad Rasyid Redho, Heri Irawan, dan Mahmudi ikut membantu tim Manggala Agni dalam peragaan peralatan-peralatan pemadaman api.

Sedangkan tim Manggala Agni Ponja Melawi, dipimpin Komandan Brigade Manggala Agni Ponja Melawi, Tri Sulayadhi. Dibantu tiga personil aktif, yaitu Silahuddin Syafi’I, M Ilham Alpandi, dan Lorensius Oky. Didukung beberapa kendaraan dinas bermotor roda dua dan satu roda empat, sesuai standar operasi di lapangan dengan banyak tipe medan yang dilalui.

“Tepian Sungai Menunuk desa Nusa Kenyikap dipilih menjadi tempat peragaan nyata dari semua peralatan pemadaman api Karhutla. Debit airnya banyak, jernih, memiliki bantaran Sungai lebar, dan dekat dengan jalan raya utama desa. Jadi kendaraan roda dua hingga empat tim Manggala Agni Ponja Agni mudah menjangkau lokasi peragaan,” kata Sri Ranti, Program Manager Program Paham di sela-sela pelatihan di lapangan.

Sri Ranti Zahra memaparkan mencegah lebih baik dibandingkan memadamkan. Akan tetapi jika sudah terjadi kebakaran hutan, peralatan-peralatan pemadaman api dari tim Manggala Agni Ponja Melawi, tidak semuanya menggunakan bahan bakar minyak ataupun listrik.

“Ada kantong air 20 liter, mampu menyemburkan air hingga jarak 7 meter tanpa bantuan bahan bakar. Tanpa perlu dipompa dulu layaknya sprier penyemprot racun rumput. Hanya perlu dimajukan dan dimundurkan tongkat penyembur, airnya sudah mampu menyembur jauh ke depan,” ungkap Sri Ranti Zahra.

Dijelaskannya tidak hanya teknik yang diberikan namun para peserta juga dikenalkan dengan kebutuhan peralatan dan perlengkapan vital, khususnya ketika berjibaku kobaran api hutan belantara. Perwakilan masing-masing desa diberi esempatan melihat, mencoba, memakai, dan menggunakan alat perlindungan diri (APD) untuk menghalau atau mengurangi panasnya api.

“Puncaknya menggunakan penyemprot air dengan debit yang cukup besar tiap detiknya. Paham akan kebutuhan, tahapan, kekuatan, teknik, hingga pengalaman menjadi modal pengendalian air pemadam api. Peserta antusias, gembira, dan bahagia mengoperasikan alat-alat nyata dari tim Manggala Agni Ponja Melawi,” ungkap Sri Ranti Zahra.

Sri Ranti Zahra mengatakan program Paham desa Nusa Kenyilap, Piawas, dan Balai Agas akan berjalan selama 25 tahun ke depan. Tujuannya menjaga, mengamankan, hingga memanfaatkan alam yang sudah ada di masing masing desa, secara bertanggungjawab dan berkelanjutan.

“Program Paham ini juga ada sustainable livelihood (mata pencaharian berkelanjutan, Red), tatakelola hutan, penanaman vegetasi hutan di Kawasan, serta pendampingan terhadap kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS). Saya melihat di Nusa Kenyikap ini, alamnya masih bagus, seperti air sungainya bersih. Ini harus kita jaga karena alam sendiri sudah memberikan yang terbaik untuk kita,” ajak Sri Ranti Zahra.

Penulis: Apriliansyah

Editor: SUAR

Leave a Comment