Workshop Menulis untuk siswa Desa Nanga Kebebu

Foto :Anak-anak Kebebu mengikuti workshop menulis buku Kampung Berkelanjutan
Oleh Apriliansyah SUAR memfasilitasi Workshop Menulis untuk siswa/siswi Desa Nanga Kebebu di Aula SMPN 3 Nanga Pinoh, pertengahan 2022 lalu. Workshop ini dihadiri kepala desa Nanga Kebebu, tokoh masyarakat dan tenaga pengajar SMPN 3 Nanga Pinoh. Workshop menulis ini mengangkat tema kearifan lokal masyarakat Desa Nanga Kebebu dalam memanfaatkan Sumberdaya alam yang ada berdasarkan pengetahuan masing masing pelajar. Para peserta diberi materi tentang dasar-dasar menulis oleh kepala sekolah SMPN 3 Nanga Pinoh, Karmisah Isnaniah. Beberapa hal yang ia sampaikan, diantaranya sebuah tulisan itu berisi huruf atau angka, kemudian kata dan kalimat yang disusun menjadi sebuah paragraf yang berisi gagasan pokok dan pikiran penjelas. “Dari sebuah paragraph itulah menjadi sebuah tulisan yang utuh sehingga apa yang disampaikan penulis bisa dimengerti oleh pembaca,” jelasnya. Karmisah juga menjelaskan, paragraf itu berisi tentang pandangan, opini atau pendapat dari si penulis jadi dengan tulisan minimal satu paragraf harus berisi informasi apa yang ingin disampaikan penulis. Peserta yang terdiri dari pelajar juga mendapatkan materi tentang pengambilan foto yang menarik untuk sebuah tulisan. Eko Susilo selaku fasilitator memotivasi peserta untuk mengembangkan kemampuan teknik pengambilan foto karena memberikan nilai artistik tersendiri juga mempermudah pembaca memahami isi tulisan. Eko, sapaan akrabnya juga membagikan tips-tips menulis kepada para peserta. “Yang utama adalah seorang penulis harus suka membaca dan tulisan dibuat seperti ketika berbicara dengan singkat sehingga para pembaca atau pendengar mudah memahami apa yang disampaikan,” ujarnya. Tips lain dalam membuat tulisan adalah niat, Ketika memulai suatu aktifitas tentunya berawal dari niat. Eko Susilo juga menjelaskan tentang bagaimana menulis untuk mengekspresikan diri melalui kata kata yang dirangkai sedemikian rupa sehingga apa yang ingin disampaikan bisa di pahami oleh orang lain. Setelah penyampaian materi para peserta juga dibekali kemampuan dengan praktik pengambilan foto dihalaman sekolah menggunakan kamera seluler serta menerapkan teknik yang dijelaskan dalam penyampaian materi. Siswa diminta melakukan sebaik mungkin sehingga foto yang di ambil menggambarkan isi tulisan dan memiliki nilai seni tersendiri. “Foto untuk tulisan hendaknya dibuat seartistik mungkin agar menarik pembaca dan juga bisa mendeskripsikan isi tulisan yang dibuat,” ucapnya sebelum mempersilahkan para peserta praktik pengambilan gambar. Selama proses kegiatan para peserta mendapatkan pengalaman baru seperti ide untuk membuat tulisan diperoleh peserta Ketika praktik pengambilan foto. Masih banyak lagi cara untuk mendapatkan ide tulisan. “Dalam mendapatkan ide untuk sebuah tulisan sebenarnya sangat mudah karena setiap hari yang kita lakukan bisa ditulis. Entah itu dari hal yang dekat, yang disukai ataupun yang digeluti. Sumber ide juga bisa didapat dari membaca, mendengar, menonton, bersilaturahmi dan mengamati,” jelas Eko. Akhir kegiatan workshop, Sukartaji selaku  fasilitator kedua menyampaikan menulis tidak hanya bakat tetapi juga harus terus dilatih, bagi pelajar menulis itu harus bisa karena menulis adalah kebutuhan. “Pada ujung ujungnya kalian semua mau tidak mau harus bisa menulis karena tuntutan zaman,” ungkapnya. Meskipun sebagian besar siswa belum memiliki pengalaman menulis dengan dipandu fasilitator para peserta bisa membuat draft tulisan yang menjadi output pada kegiatan ini dan akan diproses menjadi sebuah buku.

Leave a Comment